Image1 Image2 Image3 Image4 Image5 Image6 Image7

0 Ultrasonografi

Ultrasonografi dapat digunakan untuk mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan dan hubungan dengan jaringan sekitarnya. Ultrasonografi tidak dapat digunakan dalam mendiagnosa suatu jaringan berdasarkan hispatologi. Ultrasonografi dapat membedakan berdasarkan ketebalan suatu jaringan yang dilaluinya sehingga dapat menetukan lesi suatu jaringan dan dapat digunakan sebagai diferensial diagnosa (Lavin, 2007).
Kelebihan dalam mendiagnosa kebuntingan dengan menggunakan ultrasonografi yaitu dapat mendiagnosa kebuntingan lebih awal (pada kuda 15 hari setelah dikawinkan) dan dapat mengetahui jumlah anak yang dikandung hingga mengetahui jenis kelamin fetus (pada kuda 55-90 hari setelah dikawinkan). Dalam menentukan jumlah fetus dalam uterus sering kurang akurat sebab hanya satu sektor dari abdomen yang dapat dilihat dalam satu waktu sehingga fetus dapat terlihat dua kali atau tidak sama sekali (Jainudeen dan Hafez, 2000; Holder, 2007; Pycock, 2007).
Kerugian dari penggunaan ultrasonografi untuk mendiagnosa kebuntingan adalah harga dari alat yang masih sangat mahal, diperlukan operator yang terlatih untuk dapat menginterpretasikan tampilan yang muncul pada monitor dan ada resiko kehilangan embrio pada saat pemeriksaan akibat traumatik saat memasukkan transduser (Jainudeen dan Hafez, 2000).
Ultrasonografi merupakan alat yang secara umum terdiri dari kontrol unit, layar monitor dan transduser (probe). Ultrasonografi bekerja dengan merekam transmisi gelombang suara yang berasal dari organ target yang dilihat pada satu waktu. Gelombang suara yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi adalah antara 1-10 MHz. Gelombang tersebut berasal dari kristal-kristal yang terdapat pada transduser. Transduser bekerja sebagai pemancar sekaligus penerima gelombang suara. Pulsasi listrik yang dihasilkan sumber listrik akan diubah menjadi energi akustik dan dipancarkan ke organ target dengan arah tertentu. Energi akustik yang dipancarkan sebagian akan dipantulkan dan sebagian akan merambat terus menembus jaringan yang ada sehingga akan menimbulkan echo yang bermacam-macam sesuai kepadatan jaringan yang dilaluinya. Pantulan tersebut diubah oleh transduser menjadi arus listrik yang akan tampak pada layar monitor (Jainudeen dan Hafez, 2000; Lavin, 2007).
Frekuensi gelombang suara yang paling optimal untuk ultrasonografi adalah antara 5,0-7,5 MHz, pemilihan frekuensi ini berdasarkan tingkat penetrasi yang diharapkan untuk menembus jaringan target dan resolusi dari tampilan di layar monitor yang dibutuhkan. Pada frekuensi rendah akan didapatkan tampilan detail yang kurang baik tetapi penetrasi jaringan yang lebih baik, sedangkan pada frekuensi yang tinggi akan didapatkan tampilan detail yang baik tetapi kedalaman penetrasi jaringan yang kurang baik (Lavin, 2007). Transduser dengan frekuensi 3,5 MHz baik digunakan untuk ultrasonografi secara trans-abdominal pada kambing, domba dan babi. Transduser dengan frekuensi 5,0-7,5 MHz baik digunakan untuk ultrasonografi secara trans-rektal pada kuda, sapi dan domba (Jainudeen dan Hafez, 2000).
Gambaran echo seperti bayangan hitam keputihan (abu-abu) dan gambaran ini ditentukan oleh ketebalan jaringan. Struktur jaringan dapat dibedakan menjadi ekhogenik yaitu jaringan yang memantulkan sebagian besar dari gelombang suara dan non ekhogenik yaitu jaringan yang memantulkan sebagian kecil dari gelombang suara atau tidaksama sekali. Semakin tebal (padat) suatu jaringan maka semakin banyak gelombang yang dipantulkan sehingga semakin terang (putih) tampilan dalam layar monitor. Sebagai contoh, tulang akan berwarna putih sedangkan air (cairan) akan berwarna gelap (Jainudeen dan Hafez, 2000; Lavin, 2007).
Berdasarkan tampilan yang dihasilkan, transduser dibagi menjadi dua jenis yaitu linear transduser yang akan menghasilkan tampilan rectangular (persegi panjang) dan sector transduser yang menghasilkan tampilan seperti kipas. Untuk scaning uterus, transduser diletakkan di ventrolateral abdominal (transabdominal) atau dimasukkan ke dalam rektum (trans-rektal) dari hewan yang akan diuji. Antara kulit atau rektum dengan transduser dioleskan lubrikan jeli secukupnya untuk meyakinkan transmisi gelombang suara yang tepat (Jainudeen dan Hafez, 2000).


0 komentar:

Feeds Comments